Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Thursday, August 26, 2010



Dalam sepuluh hari terakhir Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya, karena itu beliau beri’tikaf pada hari tersebut dan dipergunakannya untuk mencari Lailatul Qadar.

Dalam As-Shahihain, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya).” (HR. Al-Bukhari).

Imam Muslim menambahkan, “Dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.”

Kalimat “wasadda mi’zarahu” maknanya adalah kiasan dari sebuah persiapan untuk beribadah dan bersungguh-sungguh padanya melebihi dari biasanya, artinya mengoptimalkan ibadah.

Seperti dikatakan dalam bahasa Arab Syadadtu lihadzal amri mi’zari yakni memperkuat dan mengencangkan kainku demi urusan ini.

Dan menurut pendapat lain maknanya adalah kiasan dari menjauhkan diri dari menggauli istrinya. Makna ini yang paling tepat karena kiasan seperti ini telah terkenal di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam syairnya:


Suatu kaum apabila berperang
Mereka mengencangkan kainnya
Kemudian tidak menggauli istrinya
Kendatipun dalam keadaan suci

Dan makna “ahyal laila” ialah mengisi malam dengan melakukan shalat dan lainnya sebagaimana dikatakan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, “Aku tidak tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam membaca Al-Qur'an tamat (selesai) satu malam, juga qiyamullail semalam suntuk sampai Shubuh, serta puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan.” (HR. An-Nasa’i).

Makna kalimat “ahyal lail” dapat diertikan melakukan qiyamullail pada sebagian besar malam atau semalam suntuk selain waktu Isya’ dan sahur, maka jadilah maksudnya menghidupkan sebagian besar malam.

Dan makna “wa aiqazha ahlahu” ialah beliau membangunkan istri-istrinya agar melakukan shalat qiyamullail, dan sudah dimaklumi bahwa beliau senantiasa membangunkan keluarganya di sepanjang tahun tetapi tidak untuk semalam suntuk, dalam Shahih Al-Bukhari dikatakan, “Pada suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bangun dan berkata,

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ.

‘Subhanallah fitnah apa yang akan diturunkan pada malam ini .. dan apa yang akan diturunkan dari perbendaharaan.. dan siapa yang dapat membangunkan orang yang sedang tidur di kamarnya .

betapa banyak orang yang berpakaian di dunianya tetapi telanjang di akhiratnya.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anhu apabila beliau hendak melakukan shalat witir, akan tetapi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan beliau membangunkan keluarganya lebih tampak jelas dari hari-hari yang lainnya.

Read more...

RAMADHAN I'TIKAF

Tuesday, August 24, 2010



I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat taat kepada Allah Ta’ala. Ia disyari’atkan dan hukumnya sunnah menurut kesepakatan para ulama. Imam Ahmad berkata “Saya tidak tahu komentar seorang pun dari para ulama kecuali i’tikaf itu disunnahkan.

” Imam Malik berkata, “Saya telah merenungkan masalah i’tikaf serta hadits-hadits tentangnya, tapi kenapa kaum muslim meninggalkannya? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam belum pernah meninggalkannya, menurut saya mereka me-ninggalkannya karena terasa berat oleh mereka.

” Dan beliau berkata, “Saya tidak mendapatkan seorang pun dari salaf bahwa yang beri’tikaf itu hanya Abu Bakar bin Abdur Rahman saja.” Apa yang dikatakan Imam Malik ini sebenarnya telah didapatkan dari orang-orang salaf ternyata mereka beri’tikaf.

Az-Zuhri rahimahullah Berkata, “Saya heran melihat kaum muslim! Kenapa mereka meninggalkan i’tikaf padahal Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam tidak pernah meninggalkannya sejak kedatangannya ke Madinah sampai Allah menjemputnya.”

Rahasia i’tikaf

Sesungguhnya dalam ibadah terdapat rahasia dan hikmah yang banyak, karena poros amal itu ada pada hati, sebagaimana dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam dalam haditsnya,
Allah Always in my heart Pictures, Images and Photos
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah sesungguhnya pada jasad itu terdapat segumpal darah, bila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan bila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kebanyakan yang merusak hati itu adalah permainan yang melalaikan dan berbagai aktifitas yang memalingkan dari Allah Ta’ala, seperti makanan dan minuman yang berlebih-lebihan, perempuan, banyak bicara,

banyak tidur, banyak persahabatan dan yang lainnya dari hal-hal yang membuat hati rusak dan hilangnya ketaatan kepada Allah, maka Allah Ta’ala kemudian mensyari’atkan berbagai bentuk penghambaan kepada-Nya demi terjaganya hati,

puasa misalnya, itu sebagai sarana untuk memperkuat perjalanan seseorang menuju Allah Ta’ala dan menyelamatkan diri dari tipuan syahwat yang selalu memalingkan dia sehingga asik dengan urusan dunia dan lupa akan akhirat.

Sesungguhnya menahan diri dari segala keinginan di saat berpuasa adalah penahanan yang seimbang, tidak seperti pada agama dan ajaran-ajaran yang lain di mana mereka melakukannya dengan ghuluw (berlebih-lebihan) seperti puasa sebu-lan penuh siang dan malam,

atau tidak makan dan minum serta tidak tidur dalam beberapa hari, atau mengubur diri, atau menganiaya diri, atau yang lainnya; ini semua tidak terdapat dalam ajaran Islam, tetapi yang ada adalah puasa yang seimbang (tidak berlebih-lebihan) yang dengannya lahirlah pembinaan diri, pemeliharaan hati, dan peningkatan ruh.

Sebagaimana puasa merupakan prisai hati dari segala bentuk yang bernuansa hawa nafsu seperti berlebih-lebihan dalam makan dan minum serta berhubungan suami istri, maka juga sama halnya dengan i’tikaf di dalamnya terdapat rahasia yang agung yaitu

memelihara seseorang dari pengaruh persahabatan yang berlebih-lebihan, karena persahabatan terkadang membawa dia keluar dari koridornya, maka keadaannya laksana orang sakit perut dikarenakan makanan yang ia makan.

Penyair berkata:

Bisa jadi musuh itu datang dari temanmu
Maka janganlah memperbanyak persahabatan
Karena penyakit seringkali terjadi
Disebabkan makanan dan minuman

Di samping itu i’tikaf juga bisa menjaga hati dari segala bahaya lisan karena di saat i’tikaf ia mengkonsentrasikan dirinya kepada Allah Ta’ala melalui shalat, baca Al-Qur'an, dzikir, berdoa, dan yang lainnya. I’tikaf juga bisa menjaga seseorang dari banyak tidur, karena ketika itu ia sedang bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai macam ibadah, bukan untuk tidur di masjid.

Dengan demikian seseorang tidak dapat dipungkiri keberhasilannya dalam upaya penyelamatan dirinya dari penyakit persahabatan, bicara, dan tidur melalui infestasi i’tikaf yang ia lakukan.

Memadukan shaum (puasa) dan i’tikaf

Tidak dapat dipungkiri bahwa berpadunya beberapa faktor untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi dari ketaatan kepada Allah, itu akan lebih dapat menjadikan seseorang lebih terfokus dalam beribadah kepada Allah Ta’ala karena itu para salaf menyunnahkan untuk memadukan antara shaum (puasa) dan i’tikaf, sehingga Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Tidak pernah diriwayatkan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bahwa beliau beri’tikaf dalam keadaan tidak puasa.” Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Tidak ada i’tikaf kecuali dalam keadaan puasa.” (HR. Abu Daud).

Allah tidak pernah menyebut I’tikaf kecuali selalu diiringi dengan shaum, Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam juga tidak pernah melakukannya kecuali diiringi dengan shaum.

Maka pendapat yang kuat menurut mayoritas salaf: “Bahwa puasa adalah syarat i’tikaf,” pendapat ini diperkuat juga oleh Syaikh Islam Abdul Abbas Ibnu Taimiyyah.

Mengenai masalah puasa syarat i’tikaf telah diriwayatkan juga dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan ini adalah pendapat Imam Malik, Al-Auza’i, dan Abu Hanifah. Adapun pendapat Imam Ahmad dan Imam Syafi’i tentang hal ini masih diperselisihkan, dan mengenai perkataan Imam Ibnul Qayyim tentang

“Tidak diriwayatkan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bahwa beliau beri’tikaf dalam keadaan tidak puasa.” Pernyataan tersebut perlu ditinjau kembali, karena dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sempat i’tikaf pada bulan Syawwal (Al-Bukhari dan Muslim) dan tidak ada kepastian pada waktu itu beliau puasa atau tidak.

Maka yang paling tepat adalah orang yang melaksanakan i’tikaf disunnahkan untuk berpuasa, tetapi puasa itu bukan syarat sahnya i’tikaf.

I’tikaf Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam beri’tikaf pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan, beliau juga pernah i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan, di situlah beliau mencari Lailatul Qadar,

tetapi setelah mendapatkan kejelasan bahwa Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, maka beliau membiasakan i’tikaf pada hari-hari tersebut. Abu Sa’id Al-Khudri berkata,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan pada bulan Ramadhan, ketika sudah lewat dua puluh malam dan masuk di malam kedua puluh satu, beliau pulang ke rumahnya begitu juga orang-orang yang ikut bersamanya, tetapi kemudian beliau melaksanakan lagi pada bulan yang sama, lalu berkhutbah dan berkata,

إِنِّي كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَبِتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ رَأَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فَأُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ

‘Sesungguhnya aku baru saja beri’tikaf pada sepuluh hari (pertengahan), kemudian telah jelas bagiku untuk aku beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir ini, maka siapa yang i’tikaf bersamaku hendaklah ia mabit (tidur) di tempat i’tikafnya, karena aku telah melihat lailatul qadar,

tetapi aku lupa lagi (hari dan tanggalnya) karena itu carilah pada sepuluh hari terakhir pada setiap hitungan yang ganjil, dan sungguh aku telah mimpi bersujud dalam keadaan basah dengan air dan berlumuran dengan tanah.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Abu Sa’id berkata, “Pada malam ke-21 kami diguyuri hujan sehingga atap masjid bocor dengan air hujan, aku melihat beliau shallallahu ‘alaihui wasallam selesai melaksanakan shalat Shubuh wajahnya basah dengan air hujan yang sudah bercampur dengan debu, maka sangat benarlah apa yang dikatakan olehnya (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan inilah sebagian dari tanda kenabiannya.”

Kemudian setelah itu, beliau senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir sebagaimana dikatakan dalam Shahihain dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau menemui ajalnya, kemudian istri-istri beliau melaksanakan i’tikaf setelahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan pada tahun kewafatannya beliau melaksanakan i’tikaf sampai dua puluh hari yaitu sepuluh hari pertengahan dan sepuluh hari terakhir, hal tersebut karena ada beberapa faktor:

Pertama: Pada tahun tersebut jibril mengajak beliau untuk mudarasah Al-Qur'an dua kali, maka tepatlah kalau beliau melaksanakan i’tikaf sampai dua kali, sehingga tercapai apa yang diinginkan.

Kedua: Beliau shallallahu ‘alaihui wasallam berkeinginan keras untuk melipatgandakan amal shalehnya serta ketaatannya kepada Allah Ta’ala, bisa jadi karena perasaan beliau akan dekatnya ajal. Sebagaimana dipahami dari firman Allah Ta’ala,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Dalam surat tersebut Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya shallallahu ‘alaihui wasallam untuk memperbanyak tasbih dan beristighfar di akhir usianya, maka begitulah beliau dalam ruku dan sujudnya sering berdoa dengan: “Subhanakallahumma Wabihamdika Allahumagfirli” (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu, ya Allah, aku memohon ampun).

Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam melakukan hal tersebut karena ingin mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang telah diberikan kepadanya seperti amal shaleh, jihad, ta’lim, puasa, qiyamullail, keistimewaannya, turunnya Al-Qur'an, dan yang lainnya.

Faktor inilah faktor yang paling tampak –wallahu a’lam– yang memotifasi beliau beri’tikaf sampai dua puluh hari pada tahun kewafatannya.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam memulai i’tikafnya sebelum matahari terbenam, misalnya jika seseorang mau i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan hendaknya dia masuk masjid pada malam kesebelas sebelum terbenam matahari, dan apabila i’tikafnya pada sepuluh hari terakhir hendaknya ia masuk masjid pada malam ke-21 sebelum terbenam matahari.

Adapun riwayat yang terdapat dalam hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sehabis shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya, maksudnya ke tempat khusus bukan tempat i’tikaf beliau, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa beliau beri’tikaf pada sebuah kubah turkiyyah (kubah buatan Turki).

Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam di saat i’tikaf sempat mengeluarkan kepalanya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha yang sedang ada di kamarnya, kemudian ia mencucinya dan menyisir rambutnya padahal ia sedang haid. Begitulah yang dikatakan dalam Shahihain. Dan dalam Mus-nad Ahmad dikatakan beliau bersandar ke pintu kamar Aisyah, lalu mengeluarkan kepalanya kemudian Aisyah menyisir rambutnya.

Dengan hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) tidak apa-apa mengeluarkan sebagian anggota badannya seperti tangan, kaki, atau kepala.

Begitu juga wanita haid tidak apa-apa memasukkan tangan atau kakinya ke masjid, karena hal tersebut tidak termasuk kategori masuk masjid. Faidah lain dari hadits di atas ialah: bahwa seorang mu’takif tidak berdosa apabila mandi, pakai parfum, mencuci kepalanya, serta menyisir rambutnya, itu semuanya tidak membatalkan i’tikaf.

Sebagian peristiwa yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam di saat melaksanakan i’tikaf adalah hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam apabila mau i’tikaf beliau shalat fajar (Shubuh) kemudian masuk ke tempat i’tikafnya, dan sesungguhnya beliau meminta agar dibuatkan baginya kamar khusus,

maka dibuatkanlah, ketika itu beliau merencanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir, pada waktu yang sama istri beliau Zainab meminta agar dibuatkan baginya kamar khusus maka dibuatkanlah, begitu juga istri beliau yang lainnya meminta agar dibuatkan kamar khusus maka dibuatkanlah, sehabis shalat fajar Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam melihat kamar-kamar khusus tersebut, lalu berkata, ‘Apakah kebaikan yang kalian inginkan?’

Maka beliau menyuruh membongkarnya, maka dibongkarlah kamar-kamar tersebut. Akhirnya Nabi membatalkan rencana i’tikafnya pada bulan Ramadhan tersebut dan menggantikannya di sepuluh hari pertama pada bulan Syawwal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna “albirro turidna” ialah apakah yang memotifasi perbuatan ini, kebaikan atau karena cemburu ingin dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Yang jelas dari hadits tersebut wallahu a’lam bahwa i’tikafnya beliau shallallahu ‘alaihui wasallam pada bulan Syawwal di tahun yang sama mulainya setelah hari ‘Ied yakni ada tanggal 2 Syawwal,

tetapi mungkin juga beliau memulainya pada hari ‘ied, jika hal ini shahih maka itu menjadi dalil bahwa dalam i’tikaf tidak disyaratkan puasa, karena pada hari ‘Ied tidak boleh puasa.

Peristiwa lain yang terjadi dalam i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam adalah: “Shafiyah istri Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sempat datang menemui beliau di masjid ketika i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, maka ia berbincang-bincang bersamanya sekitar satu jam,

kemudian berdiri untuk pulang, Nabi pun ikut berdiri lalu menciumnya, ketika sampai di pintu masjid dekat pintu Ummu Salamah, tiba-tiba lewat dua orang laki-laki dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berkata kepada mereka, ‘Jangan tergesa-gesa! Dia itu Shafiyah binti Huyay.

’ Kata mereka dengan penuh keterkejutan ‘Subhanallah Ya Rasulullah!’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berkata, ‘Sesungguhnya syetan merasuk manusia sesuai dengan aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir ada sesuatu yang dilemparkan pada hati kalian,” dalam lafazh lain ‘kejahatan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Karena besarnya perhatian beliau shallallahu ‘alaihui wasallam akan kebenaran iman dua sahabat Anshar, serta kekhawatirannya terjadi sesuatu pada hati mereka akibat ulah syetan yang pada akhirnya mereka ragu-ragu terhadap kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam lantas mereka menjadi orang kafir atau mereka disibukkan dengan mengkonter bisikan syetan seperti ini,

maka Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam menjelaskan duduk perkaranya bahwa dia itu adalah istrinya Shafiyah radhiallahu ‘anha.

Begitulah salah satu kisah yang terjadi pada i’tikafnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tentunya dalam kisah tersebut terdapat hikmah dan pelajaran yang baik bila kita cermati, kalaulah tidak khawatir keluar dari bahasan kita.

Catatan Penting Seputar I’tikaf

Pertama: beberapa para analis berpendapat bahwa tidak ada syari’at i’tikaf selain pada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi. Pendapat yang benar adalah i’tikaf boleh diselenggarakan di setiap masjid yang didirikan padanya shalat lima waktu. Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.” (Al-Baqarah: 187).

Maka kata “fil masjid” kata umum menunjukkan bolehnya beri’tikaf pada setiap masjid, tetapi dianjurkan diselenggarakan pada masjid jami’ sehingga seorang mu’takif tidak usah keluar masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Adapun hadits,

لاَ اِعْتِكَافَ إِلاَّ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ

“Tidak ada i’tikaf selain pada tiga masjid.”

Berdasarkan pendapat bahwa hadits tersebut shahih, maksudnya adalah bahwa i’tikaf yang paling sempurna dilakukan pada tiga masjid tersebut, begitulah dikatakan oleh para ulama.

Akan tetapi terdapat dalam benak saya ta’wil lain dari hadits tersebut yaitu: hadits tersebut dimaksudkan untuk orang yang bernadzar i’tikaf di sebuah masjid yang jauh, maka baginya tidak usah pergi kecuali bilamana ia bernadzar i’tikaf di salah satu masjid tersebut.

Misalnya seseorang bernadzar i’tikaf di masjid Jawatsa (masjid yang pertama didirikan shalat Jum’at di luar kota Madinah, masjid tersebut sampai sekarang masih dikenal),

maka baginya tidak usah memaksakan diri untuk pergi ke masjid tersebut tetapi ia menggantikannya dengan salah satu masjid yang ada di negerinya, atau ia pergi ke salah satu masjid yang tiga kemudian ia beri’tikaf di sana.

Dan apabila seseorang bernadzar i’tikaf di Masjidil Haram maka wajib baginya melaksanakan nadzarnya, akan tetapi bilamana ia bernadzar i’tikaf di Masjid Nabawi misalnya, maka boleh baginya i’tikaf di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram karena Masjidil Haram lebih afdhal dari Masjidil Nabawi.

Seandainya seseorang bernadzar I’tikaf di masjidil Aqsha, maka boleh baginya I’tikaf di masjidil Aqsha atau masjidil haram dan masjid nabawi, karena keduanya lebih afdhal (utama) dari masjidil Aqsha.

Kesimpulannya, maksud hadits La i’tikafa illa fil masjidits tsalatsah” ialah: tidak ada i’tikaf yang dilakukan karena nadzar dan di sebuah masjid yang harus ditempuh dengan perjalanan yang jauh, dan bahwasanya i’tikaf boleh dilakukan pada setiap masjid jami’

sebagaimana ijma’nya para ulama –imam yang empat– dan tidak ada satu pun dari ulama yang terkenal baik imam yang empat atau imam yang sepuluh serta yang lainnya mengatakan tidak ada i’tikaf selain di tiga masjid kecuali Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dan satu atau dua orang saja dari Salaf.

Kedua: Sebagian orang masih ada yang mengira bahwa i’tikaf sebagai kesempatan untuk mengasingkan diri dari teman-teman dan handai taulannya sekaligus memutuskan pembi-caraan dengan mereka, hal ini tidak baik.

Tidak ada salahnya i’tikaf dilakukan secara berjama’ah di masjid, Nabi sendiri sempat i’tikaf bersama istri-istrinya, bahkan sebagian mereka ada yang sedang istihadah, karena itu tidak berdosa seseorang beri’tikaf bersama temannya, kerabatnya, dan istrinya.

Yang tidak dibolehkan manakala i’tikaf dijadikan sebagai kesempatan untuk begadang, ngobrol kesana kemari dan sebagainya. Imam Ibnul Qayyim setelah mengkritisi apa yang dilakukan sebagian orang-orang yang bodoh di mana mereka menjadikan i’tikaf sebagai ajang untuk ngobrol,

menarik orang-orang pendatang serta tempat persahabatan, beliau berkata, “I’tikaf mereka berada pada suatu model, dan i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berada pada model yang lain.”

Ketiga: Sebagian orang ada yang meninggalkan pekerjaan dan tugasnya serta kewajibannya hanya karena i’tikaf, perbuatan seperti ini tidak baik, karena tidak dikatakan adil manakala seseorang meninggalkan yang wajib agar dapat melaksanakan yang sunnah,

oleh karena itu, wajib bagi mereka yang telah meninggalkan kewajibannya untuk menghentikan i’tikafnya dan kembali kepada kewajibannya.

Read more...

PUASA

Monday, August 23, 2010


TAKRIF & PENGERTIAN
Bahasa – Tahan diri @ diam diri.
Syarak - Tahan diri dari perkara yang batalkan puasa
dari sahur – berbuka.
Kefarduan Ramadan khusus utk umat islam.
Persamaan – Umat terdahulupun disyariatkan.


DALIL KEFARDHUAN PUASA

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(al baqarah ayat 183)

عَنْ أَبي عَبْدِ الرَّحمنِ عبدِ الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الخطابِ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ ا للهِ
صَلَّى اللهُ عَليهِ وَسَلَّمَ یَقُولُ: (( بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شهادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحمدً ا
رَسُولُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِیْتَاءِ الزَّآَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ )). رواه البخاري
ومسلم.
Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah ibn 'Umar ibn al-Khatthab ( رضي الله عنهما ) beliau berkata: Aku
telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
lslam itu teribna atas lima perkara: Naik saksi mengaku bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan
Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu adalah Utusan Allah, Mendirikan sembahyang,
mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitulLah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan.
Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan al-lmam Muslim (Al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam Kitab (al-
Iman) bab
باب الإیمان وقول النبي صلى الله عليه وسلم بني الإسلام على خمس)) ) hadis nombor 8. Al-Imam Muslim dalam bab ( باب بيان
أرآان الإسلام ودعائمه العظام) hadis nombor 16).

HUKUM TINGGAL PUASA TANPA UZUR

Konsep : Rukun Islam yg tak boleh ditinggalkan.
Ingkar kefarduan – kafir & wajib bertaubat.
Layanan – sama dgn org murtad - dibunuh.
Tidak ingkar kefarduan – fasiq & tidak kafir.
Pemerintah wajib tahan & halang dari makan/minum.
Mazhab Hanafi – Dikenakan Kaffarah kerana sengaja
meninggalkan.
Mazhab Shafi’I – Berdosa dan wajib qada’.

HIKMAH PUASA

Ibadah – tanpa lihat natijah disebaliknya.
Muraqabah kpd Allah - siang & malam.
Bulan yg paling suci berbanding yang lain.
Bersihkan jiwa dan raga.
Kasih mengasihi sesama manusia.
Rehatkan anggota penghadaman.

RUKUN PUASA

Niat:Dalam hati – tak cukup dgn lafaz saja
(Puasa sunat – tak perlu tabyit & ta’yin)
Tahan diri perkara batal – sahur – berbuka
*Makan minum dgn sengaja.
*Makan @ batalkan puasa krn sangka maghrib – qada’.
*Masuk ‘ayn ke dlm jawf & rongga terbuka.
*Dgn sengaja – tak sengaja tak batal.
*Lalat @ debu masuk – tak batal (susah nak hindar).
*Telan air liur berdarah @ bernajis – batal.
*Telan air liur yg ada makanan – tak sengaja – tak batal.
*Berkumur tak melampau masa wuduk – tak batal.
*Dipaksa – tak batal

TAHAN DARI PERAKARA BATAL

Muntah dgn sengaja.
Setubuh dgn sengaja walau tanpa inzal.
Istimna’ dgn inzal-:
*Sengaja – batal.
*Luar kawalan – tak batal.
*Makruh tahrim – Cium bg yg cepat naik shahwat.
*Hadith A’isyah – khusus utk Rasul saja.
Haid & nifas pada mana-mana waktu siang.
*Wajib qada’.
Gila & murtad.

ADAP BERPUASA

Melewatkan Sahur.
Tinggalkan percakapan sia-sia.
Cela, umpat hasut dan sebagainya.
Mandi junub sbl fajar.
Tidak berbekam dan derma darah.
Berdoa ketika berbuka.
Beri makan kpd org yg berpuasa.
Banyak sedekah, baca Qur’an.

Read more...

FIKIR..FIKIR..FIKIR..DAN TERUS BERFIKIR


Salam ya akhie ya ukhtie..insomnia ya kualami belum bertemu penawarnya..maka setiap masa yang dicuri oleh agen-agen insomnia ini, alhamdulillah kuiisi sebaiknya. Perkongsian bersama saudara yang jauh di rantauan menjanjikan kepuasan apabila kami berkongsi kisah masing-masing. Alhamdulillah, apatah lagi bulan ramadhan yang mulia ini, kadang kala kita alpa, maka teguran daripada sahabat-sahabat amatlah dinanti. syukran buat sahabat-sahabat yang mahu berbicara menemani waktu jaga aku ini.Kurenung kembali perjalanan di tanah semenanjung ini..setelah hampir 3 tahun berjuang dalam akademik, sebagai seorang hambaNya yang sentiasa mengemis dan merintih cintaNya, sebagai seorang pelajar, anak,sahabat dan apa sahaja gelaran yang seerti banyak memberi aku berjuta ilmu kehidupan yang secara rasminya jarang didapati di kuliah-kuliyah kebiasaan. Alhamdulillah, aku bakal menghampiri episod terakhir sebagai pelajar Al-kuliyah Al-islamiyah Al-alamiyah atau lebih dikenali sebagai International Islamic College ( IIC ). Tiada apa yang mulutku harus utarakan melainkan kesyukuran kepadaNya. Tempoh praktikal sebagai guru praktikum di SK DESA PETALING juga telah selesai kujalani ( 280610-200810 ). Barulah aku mengerti, kerjaya seorang guru bukanlah seperti apa yang aku fikirkan 20 tahun yang lepas apabila aku sendiri berada dan menjadi guru praktikal..SUBHANALLAH..Allah mahu mendidik aku menjadi insan yang ikhlas dan sabar dalam mendidik. Tugas seorang guru bukan sahaja mahu pelajar itu menjadi cerdik pandai, tetapi lebih daripada itu. Maka benar dan sungguh aku amat mengerti erti ikhlas dan sabar itu. Ya Allah. hanya padaMu aku mengucapkan syukur. Aku sayangMu Ya Allah..

Tatkala ini, mata masih belum bisa menurunkan kelopak. Barangkali akal ligat berfikir mengenai perancangan yang akan datang. Kemana halatuju selepas ini.Akal terus memanfaatkan fungsinya tanpa mengendahkan suara-suara halusku yang minta diri ini ditidurkan. Aku bakal kembali ke tanah air buat sementara waktu. Aku juga bakal meninggalkan sahabat-sahabatku yang telah sama merasa suka suka dalam dakwah dan tarbiyah, perjuangan akademik, usrah-usrah, halaqah, dan apa sahaja usrati yang pernah aku kenali.. dan acapkali akalku sering berfikir bahawa terlalu sedikit sumbanganku untuk agamaMu yaAllah..besarlah harapanku agar segala penglibatanku di tanah semenanjung ini diteruskan di tanah air nanti walaupun akan ada wajah-wajah baru yang akan aku ketemui. Namun itulah corak kehidupan..sering bertukar ganti namun jika ada matlamat yang sama yakni bersama-sama menegakkan kalimah Agung LAILAHAILLAH MUHAMMADURRASULULLUH, insyaAllah segalanya akan dipermudahkan. Cuma mungkin persekitaran yang berbeza walhal tanah air sendiri.,dan boleh jadi bukan aku sahaja yang merasa perkara ini. Tentu sekali kakak2--kakak usrati yang lain juga mengalami perkara yang sama.



~~~~~~~insyaAllah, ya ALlah jadikanlah aku muslimah seteguh karang..sungguh aku mengharapkan kebaikan daripadaMu dalam apa sahaja yang aku kerjakan~~~~~~~

Read more...

APABILA PERPISAHAN MULA MENJAMAH UKHUWAH..

Friday, July 23, 2010


APABILA PERPISAHAN MULA MENJAMAH UKHUWAH..
(Kulayangkan khas entri kali ini buat sahabat-sahabatku yang pernah menempuh jalan suka duka atas nama perjuangan menuju cinta Robbul Izzati- ADIK BERADIK USRAH@ALL4U,JIM,KARISMA,NAQIBAH-NAQIBAH,PERKEPIS,K-IIC,KBM, DAN SESIAPA SAHAJA YANG MENGENALI DIRI)

Salam alaik ya akhie ya ukhtie.. salam ukhuwah di sepanjang perjuangan kita atas dasar menegakkan kalimah Allah.. " Aku naik saksi bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah..dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad itu pesuruh Allah"

Marilah kita sama-sama mengingati diri akan pengakuan di dalam hati terhadap diri masing-masing..sesungguhnya..Allah mengetahui segala-galanya..luangkan masa beberapa saat untuk kita meyakini dengan lebihutuh akan kalimah " Aku naik saksi bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah..dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad itu pesuruh Allah".. takbir..Allahuakbar..

Marilah kita sama-sama menginsafi diri agar segala ibadah dan amalan yang telah dilaksankan dan nyawa yang masih dipinjamkan oleh Allah Taala ..Astaghfirulluhhalazim...

Firman Allah dalam surah al-baqarah ayat 217 yang bermaksud: " sesiapa yang murtad antara kamu daripada agamanya( agama islam) kemudian mati dalam kekafirannya itu ,maka gugurlah segala amalan mereka di dunia dan akhirat. Mereka akan kekal menjadi penunggu nereka dan kekal di dalamnya selama-lamanya"..

Ya Allah..betapa hati in benar-benar takut dengan ayat-Mu Ya Allah..sahabat-sahabatku..marilah kita sama-sama saling beringat akan setiap ibadah dan amalan yang telah kita lakukan..adakah kita sabar dan ikhlas dalam menunaikan amanah yang telah diberikanNYA..adakah pengakuan serta amalan selama ini bertepatan dengan matlamat sebenar yang kita perlu laksanakan di muka bumi ini..Ya Allah..peliharalah kami semua Ya Allah..dari perasaan ria' dan takbur dengan ibadah dan amalan yang telah dilakukan..Ya Allah pandulah hati kami agar kami menjadi hambaMu yang merendah diri akan segala nikmat yang telah diberi..jadikanlah kami hambaMu yang sentiasa bersyukur tidak kira terhadap nikmat dan ujian yan Kau berikan..agar ibadah dan amal jariah kami adalah ikhlas keranaMU semata dan bukan atas nama manusia dan dunia..Argh!!..sungguh dunia amat menguji..peliharalah kami Ya Allah..

---Mengapa entri kali ini..sungguh berat untuk kuteruskan dan rentak jariku tidak seperti selalu..Ya Allah..sukar untukku ungkap dan olah jika sesuatu ini berkait rapat dengan kasih sayang yang telah tersimpul di dalam eratnya ukhuwah bersama sahabat-sahabatku--

Sahabat-sahabat yang aku rindui dan hormati..marilah kita semua sama-sama mengingati perjalanan akhir hidup seorang insan..yakni MATI..

MATI.. MATI.. -

" sepintar-pintar manusia ialah orang yang sentiasa ingat pada mati dan sentiasa bersedia menghadapinya,mereka itulah orang yang bijaksana" Firman Allah s.w.t.. " katakanlah bahawasanya maut yang kamu sekalian ingin lari daripadanya itu pasti mendatangi kamu, kemudian kamu sekalian akan dikembalikan kepada Zat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata. Kelak Dia akan memberitahu kamu segala yang telah kamu lakukan" Surah Al-Jumu'ah : 8

SAHABAT-SAHABATKU..

" sekadar Al-Fatihah"
sekadar al-fatihah
agar bisa menungkil rasa
buat sahabat
saat aku mengingatimu
wajah tenangmu mengisi minda
sememangnya aku maklum
suka duka kita
dalam perjuangan mencari cinta
namun pernahkah ada rindu
jika perpisahan menunggu??

sahabat.. cinta Illahi matlamat diri
payah benar perjuangan ini
sedang sahabat telah pergi
resah aku dalam parah
sahabat pergi dalam sejarah
sekadar Al-fatihah
sebagai hadiah
buatmu-sahabat....

Dengan bersaksikan segala kasih sayangku dengan nama Allah Yang Maha Pemberi Nikmat..bahawa aku sungguh menyayangi sahabat-sahabatku.aku pasti merindui saat suka duka dalam perjuangan kita dalam menggapai redhaNYA..rindu itu sentiasa pasti..aku punya berjuta kata..cuma masih kosong bicara..

Kesempatan ini..berjuta keampuanan kumohon daripada Allah taala dan sahabat-sahabatku jika PERPISAHAN MULA MENJAMAH UKHUWAH..ibu selalu pesan..usah kau kesali perpisahan,tapi kesalilah pertemuan..kerana itulah yang menerbitkan perpisahan.. Kebersamaan kita dalam ukhuwah ini..adakalanya pasti terhenti seketika.Tapi berhenti bukan beerti berakhir dan tidak peduli akan segala epilaog kenangan.kerana setiap dari kita punya matlamat yang perlu dilaksanakan..dan dalam perlaksanaan itu..pasti menuntut berjuta pengorbanan dan salah satunya..PERPISAHAN....cuma yang pasti jalan di hadapan perlu diteruskan atas nama amanah Ilahi yang perlu dilaksanakan.

Read more...

JIKA ISTERI MENANGIS DI HADAPANMU

Sunday, July 4, 2010

JIKA ISTERI MENANGIS DI HADAPANMU-( terima kasih akhie amal kerana kongsi artikel ini)

Jika seorang isteri menangis dihadapanmu,
itu bererti dia tidak dapat menahannya lagi.

Jika kau memegang tangannya saat dia menangis,
dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu...

Jika kau membiarkannya pergi,
dia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu, selamanya!

Seorang isteri tidak akan menangis dengan mudah,
kecuali didepan orang yang sangat dia sayangi, dia akan menjadi lemah!
Seorang isteri tidak akan menangis dengan mudah,
hanya jika dia sangat menyayangimu.
Dia akan menurunkan rasa EGOnyaWahai suami2,
jika seorang isteri pernah menangis karenamu,
tolong pegang tangannya dengan penuh pengertian.
Kerana dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu disaat
kau terperuk terlalu dalam .

Wahai suami2,
jika seorang isteri menangis keranamu,
tolong jangan menyia-nyiakannya...
Mungkin, kerana keputusanmu, kau merosakkan kehidupannya.

Saat dia menangis didepanmu, saat dia menangis keranamu...
Lihatlah jauh kedalam matanya. Dapatkah kau lihat dan kau rasakan SAKIT
yang dirasakannya keranamu ?

Apakah keistimewaan perempuan ini?
Dibalik KELEMBUTANYA dia memiliki kekuatan yang begitu dahsyat..
TUTUR katanya merupakan KEBENARAN...
SENYUMANnya adalah SEMANGAT bagi orang yang dicintainya...
PELUKAN & CIUMANnya bisa memberi KEHANGATAN bagi anak2nya...

Dia TERSENYUM bila melihat temannya tertawa..
Dia TERHARU, MENANGIS bila melihat KESENGSARAAN pd org2 yg dikasihinya...
Dia mampu TERSENYUM dibalik KESEDIHANnya...
Dia sangat GEMBIRA melihat KELAHIRAN...
Dia begitu sedih melihat KEMATIAN..
TITISAN air matanya bisa membawa PERDAMAIAN.

Tapi dia sering dilupakan oleh SUAMI kerana 1 hal.
Bahawa "Betapa BERHARGAnya dia".

Sebarkan ini ke SELURUH ISTERI2 yg soleha dan SUAMI2 yang kamu kenal
agar mereka tidak lupa bahwa ISTERI mereka begitu BERHARGA. dan sangat BERHARGA.

Read more...

AKU DAN CINTA ROBBUL IZZATI

Saturday, July 3, 2010


dalam ulir jiwa
penuh tenang dan terpelihara
malahan khusyuk dan redha
atas nama hamba
kusujud paada sejadah tua

" .....Allah, kudamba kasihMu
.....Allah, kukesali dosaku
.....Allah, kupuja cintaMu
.....Allah, ampunkan kekhilafanku
.....Allah kurindu
rindu...
rindu...
Allah, benar kudamba redhaMu sungguh !
Allahuakbar..

SENI NILAM
PERHIMPUNAN KARISMA NASIONAL 2009
MASJID UMAR AL-KHATTAB
25-26 DISEMBER 2009

Read more...

SATU DUA PUISI

GADIS IDAMAN

Gadis itu wajahnya berona NUR IMAN,
Mahkotanya dilitupi tanda KEHORMATAN,
Maruah diri dipagari dengan KESOPANAN,
Dialah puteri indah RUPAWAN…
Tika gadis lain sibuk menghias diri,
Dia hias NUR ILAHI pada WAJAHnya…
Tika gadis lain sibuk mencari SANG PUTERA,
Dia selesa dengan bersama CintaNYA…
Tika gadis lain sibuk bermadah pujangga,
Dia TEKUN dengan BAIT kata TUHANnya…
Tika gadis lain menangisi pemergian ARJUNA,
Dia tangisi KEHINAAN DIRI sebagai hamba…
Gadis itu seperti MAWAR BERDURI,
Indah di pandangan namun sukar DIPEGANG,
Mulianya kerana KETAQWAAN,
Cantiknya kerana keperibadian AKHLAK MULIA…
Kerana itulah dikatakan dia…GADIS IDAMAN
Moga kitalah gadis yang dirindui SYURGA…

TALAK 2007(untuk si dia-buatmu insan yang menghilang)

Epilog semalamMasih berbekam
Umpama ruam
Cinta suami tiada ketemuan
Umpama malam tanpa seri
bulanLangit jadi kusam
Talak 2007Menghantar ke lembah diam
Gerak geri sopan
Walhal penuh dendamDalam diam
Walaupun hakikatnya menyedihkan
Cinta tetap adaYakni cinta Ilahi
Kekal abadiCuma pupuklah diri
Menghadap Ilahi
Dalam duniawi
Sementara ini


KHAS BUAT INSAN BERGELAR SUAMI“SERPIHAN KASIH”

Kukutip serpihan kasihmu
Ketika berada pada jalan dingin
Yang telah kau tinggalkan
Barangkali ada
Tapi cuma tinggal sisa
Barangkali boleh ditampalpada ruang kosong hati
Agar bisa dinikmatiTika perlu amat
Biar permata hati
Menjadi penawar duka
Pengusir keresahan
Jika kau carikcarik hatimu
Masih ada lagikah ruangUntuk kubersandar sebentar
Ketika lelah dan payah
Penyatuan insanadam dan hawa
Bukanlah seperti kad prabayar
Tapi akad nikah yang menghalal segala
Dalam gemersik kata
Akulah yang bertatih
Pada hati adammuKerana ianya memang tersurat
Akan erti penyerahan diri
Kasih isteri kepada suami
Namun harapanku bersandar pada angin
Terasa melibas pipi
Tapi bayang tiada
Kerana lafaz talak telah terpatri.

AKU MASIH MAHU MENJADI ISTERIMU

Jika kau hadir ke dunia
Sebagai putera
Aku rela menjadi Cinderella
Kita lakonkan kisah cinta
Menjadi lagenda

Jika kau hadir ke duniaTerbang menjadi kumbang
Lantas kumekari diri Menjadi bungaPenyeri taman
Jika kau hadir ke duniaSebagai bulan
Maka akulah sang pungguk Setia memandangmu
Jika kau hadir ke dunia Sebagai kertas Akulah tintanya
Kutulis puisi terindah
Untuk kita sulami
Dengan mekar kasih setiap madah

Jika kau hadir ke duniaUmpama penulis jalanan
Relalah aku sebagai penyajak bisuYang setia membawa tajam puisi cinta
Wahai lelakiCintamu tiada ketemuan akhirnya
Bila pudar sayang
Hancurlah cinta
Putuslah kasih
Talak 2007
Menghantarku ke lembah kaku
Tidak mampu menjadi ratu
Walau engkau sebagaiPutera
Kumbang
Bulan
Kertas
mahupun penulis jalanan
gagallah aku sebagaiCinderella
Bunga
Sang pungguk
TintaMahupun
penyajak bisu

Kerana talak 2007 telah terlaksana
Jika masa bisa berundur malu
Aku masih mahu menjadi isterimu


SEORANG ANAK

1.Berkumpul kasih ibumewangi cinta ayah
meninggalkan pengalaman pahitdi sudut hati

2.Senyum dan tawamuyang jernih
bagai memintasetitis ertipenyatuan seluruh mata angindari semua lautan:ke dalam ruang lapangyang lebih selesadan dewasa

3.Di sini, seorang anakberkumpul kasih ibumewangi cinta ayah
lahir daripada seribu rahsiayang tersimpan
nikmat kamar

4.Seluruh waktu tangismudi semua ladang:membakar kebiasaan tidur
hangus bersamaberahi mimpi

5.Adalah kebahagiaan yang mempesona
sehingga semua hujanmengisi seluruh ketandusansawah di desa

6.Musim
dirikuhitung hariku
kota katasambil mencatatsimpankangerak-geri waktuyang berubahseperti biasatetapi lain

7.Dan seluruh perbuatanyang bertentanganmenjemukan rasa hati
melemaskan diri

8.Lalu, seoarang anak
simbol penghubungikatan sebuah rumahtanggakeakhir zaman

  © Free Blogger Templates Nightingale by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP